PKBM, Antara Ada dan Tiada

“Salah satu muatan lokal yang diberikan kepada warga belajar adalah ketrampilan menjahit, kemudian setelah trampil dimagangkan di konveksi yang menjadi mitra kerja PKBM dengan tujuan memberi pengalaman kerja agar siap mandiri.” Kata Ghufron Rosyadi, penyelenggara Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Sunan Kalijaga, Kota Kediri. Dikatakan pula bahwa selain ketrampilan menjahit, bagi warga belajar laki-laki diberikan ketrampilan sablon, hal ini sesuai dengan visi PKBM yang dipimpinnya, yaitu upaya mencetak insan cerdas, trampil, mandiri dan bertaqwa kepada Allah.


Dengan di dukung tenaga pengajar (tutor) sebanyak 14 orang dengan latar belakang sarjana, saat ini PKBM Sunan Kalijaga sedang menyelenggarakan program Keaksaraan Fungsional yang diikuti oleh 40 orang warga belajar, program kejar paket A, diikuti oleh 10 orang warga belajar, program kejar paket B diikuti oleh 40 orang warga belajar dan kejar paket C diikuti oleh 82 orang warga belajar. Untuk program kejar paket A dan paket B, warga belajarnya tidak dipungut biaya alias gratis, malahan diberi buku tulis dan buku pelajaran senilai Rp.120.000 untuk warga belajar paket A dan Rp.150.000 untuk warga belajar paket B. “Itu pandai-pandainya kami mengelola dana dari donator dan bantuan dari dinas pendidikan agar warga belajar tertarik mengikuti program kesetaraan.” Kata pengelola ketika ditanya dana operasional penyelenggaraan pendidikan luar sekolah di PKBM, termasuk mengajukan proposal untuk mendapatkan dana penyelenggaraan program kesetaraan kejar paket C kepada BPPLSP Surabaya.
Seperti halnya PKBM yang lain di jawa timur, PKBM Sunan Kalijaga senantiasa berusaha eksis dalam membantu pemerintah memberantas kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan melalui berbagai program pendidikan luar sekolah. Sayangnya tujuan mulia ini, belum semua pemerintah daerah mengetahui apalagi memberikan dukungan finansial yang memadai. Hal ini terjadi, mungkin karena kurangnya informasi tentang keberadaan PKBM atau memang pemerintah daerah menganggap PKBM kurang bisa memberi kontribusi terhadap upaya menaikkan pendapatan asli daerah (PAD). Disamping itu, kalau kita mau jujur, senyatanyalah masih ada PKBM yang hanya sekedar memburu bantuan dana tanpa diikuti penyelenggaraan pendidikan luar sekolah yang benar-benar terasakan manfaatnya oleh masyarakat yang menjadi sasaran program.
Untuk itulah, upaya sosialisasi keberadaan PKBM Sunan Kalijaga, selain melalui penyebaran brosur, mengirimkan laporan kegiatan kepada instansi terkait, juga menyelenggarakan lomba mendongeng dan Festival Sholawat Rebana yang diikuti oleh warga belajar keaksaraan fungsional dan warga belajar program kesetaraan.
Kata penyandang gelar sarjana agama ini, kegiatan lomba dihadiri oleh Wakil Walikota Kediri, Kepala Dinas Pendidikan kota Kediri, Kasubdin PLS Kosbud kota Kediri dan Kepala Kelurahan Lirboyo. Dari kegiatan ini, perhatian pemerintah daerah mulai ada, diantaranya pemda memberikan bantuan tabanas kepada para pemenang lomba dan bantuan dana ujian nasional untuk 20 warga belajar serta munculnya hasil Raperda tentang program pendidikan luar sekolah, tinggal menunggu realisasinya.
Kemudian,untuk menepis anggapan yang salah dan membangun citra positif PKBM, kata Rahayu, pemerhati PKBM dari BPPLSP Surabaya, hendaknya pengelola menjalin kemitraan dengan berbagai lembaga yang memiliki program pemberdayaan. Apalagi saat ini sudah dibentuk forum PKBM sebagai wadah berekspresi menyuarakan keberadaannya menolong masyarakat meningkatkan mutu hidupnya. Artinya, melalui penyelenggaraan program PLS, hendaknya PKBM berusaha memberdayakan masyarakat, bukan memperdayai masyarakat untuk kepentingan pengurusnya, lanjut Rahayu.
Disinilah, tanggung jawab forum PKBM untuk selalu membina dan mengingatkan kepada penyelenggara agar meningkatkan kinerja, profesionalisme dan akuntabilitas sebagai upaya membangun pencitraan kelembagaan, dimana dampaknya adalah pendidikan luar sekolah yang dikelola lewat PKBM akan menjadi tolehan bagi masyarakat sebagai alternatif pilihan untuk mendapatkan atau menambah pengetahuan dan ketrampilan yang bermanfaat untuk bekal hidup ditengah-tengah ketatnya persaingan mendapatkan pekerjaan.
Namun ironisnya, prestasi yang berhasil ditorehkan PKBM dalam upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat marginal melalui program-programnya, masih saja dipandang sebelah mata oleh penguasa setempat. Inilah pekerjaan rumah bagi pengurus Forum PKBM agar kedepan keberadaan PKBM diakuia apa adanya. Pengurus Forum jangan hanya sibuk rapat menghabiskan dana stimulan dari Direktorat. Semoga.
*Penulis adalah pamong belajar bpplsp reg-4 Surabaya

sumber : www.jugaguru.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s